Halaman

Minggu, 06 November 2016

Arti dan Makna Dari Konsentrasi

Konsentrasi – pengertian konsentrasi yang paling sederhana adalah menghimpun semua pikiran yang tercerai berai, diarahkan ke satu hal saja, yakni memikirkan satu masalah saja , dan tidak memikirkan berbagai masalah dalam satu waktu.
Pengertian Konsentrasi ini sama dengan arti khusyu’ dalam shalat, yaitu menghimpun hati  untuk memikirkan shalat saja, dan berupaya mengembalikan pikiran yang mengembara ke mana-mana memikirkan banyak hal, diarahkan kepada shalat.
Para ulama terdahulu telah memberi contoh  yang sangat mengagumkan dalam memusatkan pikiran. Syekh M. Ismail al-Muqaddam misalnya, dalam kitabnya, Uluwwul  Himmah, telah mencerminkan beberapa kisah mengenai ini, antara lain dia katakan:

“Inilah dia al-Khalil bin Ahmad, suatu ketika keluar rumah. Tidak terasa olehnya, tiba-tiba dia sudah berada di tengah gurun pasir.
Ada seseorang  berkunjung kepada seorang penyair bernama Abu Tamam. Saat itu dia sedang menggubah syair. Dia tidak merasakan kedatangan orang itu.
Ibnu Sahnun mempunyai seorang budak. Suatu hari ia meminta pembantunya itu menyiapkan makanan untuknya. Saat itu dia sedang sibuk menulis karangannya berisi bantahan terhadap orang-orang yang tidak sependapat dengannya. Makanan pun dihidangkan. Setelah lama menunggu, akhirnya wanita itu menyuapinya, sampai makanan itu habis, sedang Ibnu Syahnun tidak merasakan. Dia terus menulis sampai terbit fajar. Kemudian, dia menanyakan kepada wanita itu tentang makanan yang dia minta. Maka, wanita itu memberitahu bahwa dia telah menghabiskannya tanpa terasa.

Ada seorang ulama salaf ditanya, ‘Apakah hati Anda berbicara tentang suatu perkara dunia dalam shalat?’ Maka dia jawab, ‘Tidak, baik dalam shalat maupun di luar shalat’.
Maimun bin Mahran berkata, ‘Saya sama sekali tak pernah melihat Muslim bin Yasar menoleh ketika shalat. Bahkan, sungguh, salah satu sisi masjid ini pernah roboh. Orang-orang di pasar waktu itu terkejut mendengar dentuman robohnya bangunan, sementara Muslim masih ada di dalam masjid. Dia tetap meneruskan shalatnya tanpa menoleh’.

Telah diriwayatkan juga, bahwa Abdullah bin az-Zubair Ra. pernah shalat di dalam Ka’bah. Ketika itu dia dikepung oleh pasukan Abdul Malik bin Marwan. Mereka melemparkan ke arahnya batu-batu dengan manjanik (alat pelempar batu). Ada pecahan batu besar melintas di antara janggut dan leher Ibnu Zubair, tetapi dia tidak bergeser dari tempatnya. Tidak tampak pada raut mukanya tanda-tanda dia terkejut atau peduli.
Begitu pula, Syekh al-Allamah al-Muhaddits M. Nashirudin al-Albani sering kali tinggal di perpustakaan dalam waktu yang lama, untuk menela’ah buku-buku dan melakukan penelitian, sampai-sampai dia diberi satu ruangan khusus di Perpustakaan azh-Zhahiriyyah, agar ia bisa melakukan penelitian dan menela’ah buku-buku dengan leluasa. Bahkan, ada cerita, bahwa dia pernah naik tangga untuk mengambil sebuah buku dari rak. Setelah didapat, dia duduk selama satu jam atau lebih. Dia membaca buku itu, sedang dia masih berada di atas tangga. Itu lantaran begitu senang dan gemarnya ia membaca.

Selanjutnya, marilah kita lihat sebuah contoh dari seorang ilmuwan penemu danBarat terkemuka, Thomas Alfa Edison. Suatu ketika dia ingin memecahkan soal matematika yang rumit, yang selama ini telah menyibukkan pikirannya. Tapi, waktu itu dia ada di jalan. Maka, dia keluarkan dari sakunya . sepotong kapur. Dia melihat di depannya ada sebuah gerobak angkutan umum berhenti. Sisi belakang gerobak itu berwarna hitam seperti papan tulis. Maka, mulailah dia menulis di sana. Hingga, ketika gerobak itu berjalan, orang-orang melihat ada seseorang berlari-lari di belakang gerobak, sambil memegang kapur dan terus menulis.
Dikutip dari “Obat Lupa”, Mahmud Asy-Syarqawi.
Facebook Twitter Google+
Back To Top